Transformasi Paradigma Pemadam Kebakaran Bandung Lewat Budaya Mitigasi Dini
Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Bandung menggalakkan budaya pencegahan kebakaran melalui edukasi warga, pembentukan relawan, dan pelibatan sektor usaha guna menekan potensi bencana sebelum darurat terjadi.
Menjaga keamanan Kota Bandung dari ancaman kebakaran dinilai tidak cukup hanya dengan mengandalkan respons cepat petugas saat musibah melanda, melainkan harus dimulai dari kebiasaan preventif serta kepekaan warga terhadap bahaya di sekitarnya.
Adhli Al Afwan Izwar selaku Kepala Bidang Pencegahan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Diskarmatan) Kota Bandung berkeinginan mengubah cara pandang publik bahwa aparat mestinya hadir sebelum api berkobar, bukan sekadar datang ketika situasi sudah gawat.
Dalam pernyataannya di Mako Diskarmatan Kota Bandung pada hari Kamis, 15 Oktober 2026, Adhli menyampaikan bahwa pihaknya ingin menggeser paradigma lama agar eksistensi pemadam kebakaran dirasakan sebelum masalah timbul, yang menjadi fokus utama di bidang pencegahan.
Rangkaian kegiatan pencegahan meliputi penyuluhan, pendampingan warga, pembentukan relawan, serta pengecekan perangkat proteksi di berbagai lokasi, di samping mendorong para pelaku usaha untuk memastikan kelayakan sistem keselamatan gedung mereka.
Program penyuluhan menyasar berbagai lapisan usia, mulai dari anak-anak tingkat PAUD, Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar, hingga khalayak umum.
Kantor dinas pun kerap menyambut kunjungan pelajar yang ingin mengenal lebih dekat profesi penyelamatan, sekaligus memberi kesempatan bagi warga melihat langsung armada dan peralatan yang biasanya hanya tampak saat terjadi insiden.
Ancaman kebakaran umumnya bersumber dari aktivitas domestik sehari-hari, seperti meninggalkan kompor menyala saat memasak, memakai selang atau pengatur tekanan gas yang tidak memenuhi standar, hingga membiarkan instalasi listrik yang buruk.
Menurut Adhli, warga diimbau untuk mewaspadai potensi bahaya di lingkungan terdekat khususnya rumah tangga, termasuk kegiatan memasak yang ditinggal, kondisi selang gas bermasalah, serta kendala kelistrikan.
Lebih dari sekadar mengenali ancaman, masyarakat perlu memahami langkah-langkah antisipasi serta tindakan yang tepat tatkala musibah benar-benar terjadi.
Pendekatan serupa diterapkan bagi sektor bisnis, khususnya pengelola gedung tinggi, agar menerapkan manajemen keselamatan yang mencakup pemeriksaan alat proteksi berkala, ketersediaan jalur evakuasi, dan pemahaman peran setiap orang dalam situasi darurat.
Manajemen gedung juga wajib mengatur pembagian tugas secara konkret, termasuk penunjukan pemandu evakuasi serta prosedur penanganan pertama yang aman.
Menumbuhkan kesadaran di seluruh wilayah Bandung bukanlah tugas yang mudah, mengingat rasio ideal penanganan adalah satu personel pemadam untuk setiap 5.000 penduduk.
Dengan populasi Bandung yang menyentuh angka 2,5 juta jiwa, kebutuhan ideal tenaga operasional mencapai 500 orang, sementara saat wawancara dilaksanakan jumlah personel yang ada baru sekitar 300 orang.
Keterbatasan jumlah tersebut membuat pemerintah tidak bisa bekerja sendiri, sehingga pelibatan warga lewat pembentukan relawan pemadam kebakaran atau Redkar menjadi elemen vital untuk memperluas jangkauan perlindungan.
Kehadiran Redkar diharapkan mampu mendukung sosialisasi, memetakan potensi kerawanan, serta mengecek fasilitas proteksi api di kawasan masing-masing.
Selain kelompok relawan, Diskarmatan menerapkan strategi berbasis wilayah dengan menempatkan satu pegawai penghubung di tiap kecamatan, yang kini tengah diuji coba di Kecamatan Sukasari dan Bojongloa Kidul guna mempererat sinergi antara dinas, pemerintah kecamatan, kelurahan, dan warga.
Bagi Adhli, tindakan preventif sangat krusial karena api tidak hanya menimbulkan kerugian harta tetapi juga merenggut nyawa, serta ada rentang waktu lima menit pertama yang sangat menentukan eskalasi bencana.
Ia menegaskan bahwa lima menit permulaan itu memegang peranan kunci apakah api akan membesar dan mengancam lingkungan serta jiwa, sehingga pemadaman dini atau antisipasi awal sangat berdampak besar, meski skenario terbaik adalah mencegah kebakaran agar tidak pernah terjadi.
Oleh sebab itu, masyarakat dianjurkan terbiasa mengenali potensi bahaya, memeriksa kelayakan alat, serta menguasai cara pelaporan, di mana pemahaman tersebut krusial guna menciptakan kawasan yang tahan terhadap ancaman api.
Di samping itu, Diskarmatan bekerja sama dengan pihak akademisi sedang melakukan kajian untuk menghitung indeks ketangguhan kebakaran atau Fire Resilience Index (Firli) serta menyusun rencana induk sistem proteksi guna memperkuat langkah pencegahan di Kota Bandung.
Adhli menambahkan bahwa ketangguhan wilayah tidak berarti daerah tersebut steril sepenuhnya dari api, melainkan seberapa besar kapasitas warga dalam menekan peluang munculnya bencana serta meminimalisir dampaknya.
Warga pun diajak untuk menjadikan langkah pencegahan sebagai kebiasaan kolektif, alih-alih sekadar menunggu kedatangan petugas tatkala musibah sudah terjadi.
Adhli berpesan agar budaya pencegahan dijadikan kebiasaan baru di tengah masyarakat dengan cara mengenali potensi bahaya, memahami cara mencegah dan memeriksanya, serta mengerti prosedur pelaporan kepada dinas terkait.
Pada akhirnya, tolok ukur keberhasilan bukan sekadar melihat padamnya kobaran api, melainkan ketika warga peka terhadap bahaya sejak dini, relawan sigap mengamankan lingkungan, dan potensi bencana berhasil diredam sebelum membesar.
Sebab, sebelum sirine darurat berbunyi, ada kewajiban bersama untuk memastikan Kota Bandung senantiasa berada dalam situasi yang aman.
Sumber berita: Portal Resmi Kota Bandung — 20 Oktober 2026.



