Kirab Budaya Peringatan HJKB Dipuji, Wali Kota Soroti Inovasi Warga dan Aparat
Wali Kota memuji inovasi jampana dan kirab budaya dalam perayaan HJKB yang digelar sederhana sesuai instruksi presiden, sekaligus menegaskan komitmen memperluas ruang ekspresi seni hingga tingkat akar rumput.
Penyelenggaraan kirab budaya dinilai sebagai inovasi segar dalam mengakhiri rangkaian peringatan Hari Jadi Kota Bandung (HJKB). Keputusan mengusung format kirab budaya ini diambil untuk menindaklanjuti instruksi Presiden Prabowo Subianto agar setiap perayaan diselenggarakan secara bersahaja dan jauh dari kesan berlebihan.
Wali Kota Farhan menjelaskan bahwa tradisi penutupan HJKB yang sebelumnya identik dengan iring-iringan kendaraan hias kini digantikan oleh tradisi jampana. Transformasi tersebut, menurutnya, memperlihatkan daya cipta yang mengesankan dari kalangan aparatur sipil negara (ASN) serta warga di berbagai kecamatan.
Pernyataan itu disampaikan Farhan di halaman Plaza Balai Kota Bandung pada Senin, 26 Oktober 2026. Ia mengemukakan bahwa sajian seni dari tiap daerah tidak sekadar menyuguhkan keelokan visual, melainkan sarat akan muatan kultural yang mendalam.
Sejumlah penampilan bahkan mendapat pujian khusus karena dinilai sangat menarik, seperti rombongan Zorro yang menampilkan miniatur makam beserta tokoh-tokoh hantu lokal. Selain itu, ia juga memuji kontingen dari Rancasari yang menampilkan tokoh sosok ratu dalam rancangan budayanya.
Ia menyatakan kekagumannya terhadap inovasi tersebut yang dinilai sangat tepat karena mampu berjalan beriringan sembari menyampaikan pesan bermakna. Di samping sebagai wadah unjuk bakat warga dan ASN, kegiatan ini sukses mencerminkan identitas Bandung sebagai kota yang inklusif terhadap kemajemukan tradisi.
Lebih lanjut, Farhan mengungkapkan bahwa perayaan budaya kali ini tidak terbatas pada jampana dan pawai semata. Bersamaan dengan itu, Kota Bandung turut memfasilitasi perhelatan Jambore Batik Jawa Barat yang berlangsung selama tiga hari.
Berbagai agenda tersebut, imbuhnya, semakin memantapkan reputasi Kota Bandung sebagai destinasi ideal bagi pelaksanaan aneka festival kebudayaan. Pemajuan kebudayaan di wilayah ini, tegasnya, tidak boleh hanya terbatas pada kalangan eksklusif saja.
Seluruh lapisan masyarakat di berbagai kawasan harus bisa mengakses dan menikmati ekspresi budaya tersebut secara langsung. Sebagai contoh, ia menyebut program Badaya Bandung Utama Ngabudaya di Kelurahan Babakan Ciparay yang kini telah menginjak penyelenggaraan ketiga sebagai wujud penguatan kebudayaan di tingkat lokal.
Sebelumnya, program Badaya Bandung Utama Ngabudaya ini telah sukses dihelat mencakup wilayah Bandung Barat, Bandung Tengah, hingga Bandung Timur. Ke depannya, Pemerintah Kota Bandung berencana menghadirkan lebih banyak ruang pementasan bagi para seniman, khususnya seniman tradisional Sunda.
Sumber berita: Portal Resmi Kota Bandung — 26 Oktober 2026.



