Latest Update
B BANDUNG RAYA TV
← Semua berita

Kemeriahan Pawai Jampana Tutup Rangkaian Hari Jadi Kota Bandung

Sunday, 25 October 2026 · oleh Redaksi Bandung Raya TV · 👁 7
Foto: Portal Resmi Kota Bandung

Pemerintah Kota Bandung menggelar Pawai Jampana sebagai puncak peringatan HJKB ke-216 dengan mengusung konsep pesta rakyat yang berbasis budaya lokal.

Rangkaian penutupan Hari Jadi Kota Bandung ke-216 tahun ini menyajikan suasana yang berlainan dari tahun-tahun sebelumnya. Apabila dahulu perayaan kerap ditandai dengan parade kendaraan berhias pada malam hari, kali ini kemeriahan diwujudkan lewat tradisi arak-arakan yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat serta berbagai elemen.

Berdasarkan laporan Humas Bandung, animo publik terlihat sangat tinggi untuk menyaksikan Pawai Jampana. Masyarakat memadati rute karnaval yang membentang dari Jalan Diponegoro sampai Jalan Merdeka sebelum akhirnya berpusat di Balai Kota.

Selain itu, warga juga tampak antusias menikmati beragam hiburan yang disajikan di Balai Kota Bandung, mulai dari penampilan Ega Robot, Kuburan Band, hingga Bungsu Bandung.

Penyelenggaraan Pawai Jampana dirancang sebagai perayaan kerakyatan yang bersahaja, namun tetap menyuguhkan kemeriahan serta sarat akan nilai-nilai kebudayaan yang dapat dinikmati khalayak luas.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menyatakan bahwa keputusan menggunakan Jampana merupakan strategi untuk menampilkan pesta rakyat yang tidak berlebihan tetapi meriah serta berakar kuat pada kultur warga.

Jampana sendiri adalah tandu hias yang diusung oleh empat sampai enam orang pengusung. Setiap kontingen membawa berbagai macam ornamen dengan tema dan bentuk yang bervariasi, mencerminkan daya cipta dari masing-masing kelompok.

Salah satu wujud kreativitas tersebut tampak pada pembuatan miniatur kereta api hasil karya Dinas Perhubungan. Keunikan Jampana tidak hanya terletak pada tampilannya saja, melainkan juga pada isi di dalam tandu yang berupa aneka jenis makanan untuk dibagikan kepada khalayak sepanjang rute arak-arakan.

“Jampana itu adalah arak-arakan yang dipanggul oleh empat sampai enam orang. Di dalamnya diisi berbagai macam makanan. Nanti sambil lewat, dia berhenti dan orang bisa mengambil makanannya,” tutur Farhan.

Ia menambahkan, format tersebut dipilih sebagai pengganti perayaan terdahulu yang memanfaatkan mobil hias saat malam hari lewat tema City of Light. Pada kesempatan ini, Pemerintah Kota Bandung memilih untuk mengangkat kembali tradisi setempat dalam rangka menyudahi rangkaian HJKB.

Farhan memaparkan bahwa gagasan penyelenggaraan karnaval ini berawal dari pemantauannya terhadap beragam kegiatan tingkat kecamatan yang meramaikan HJKB. Dalam rentang tanggal 5 hingga 6 September, tepatnya sehari pasca upacara peringatan HJKB, ia mengamati tingginya semangat warga dalam memamerkan potensi serta kreativitas wilayah masing-masing.

Situasi tersebut memotivasi Pemkot Bandung untuk merancang sebuah acara yang memberi kesempatan bagi publik untuk turut serta, sekaligus menggandeng kalangan pelajar.

Pada pelaksanaannya, Pemkot Bandung menggandeng sejumlah instansi pendidikan, di antaranya Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), Institut Teknologi Bandung (ITB), serta Taruna Nusantara.

Farhan mengemukakan bahwa penjadwalan acara pada pagi hari juga menjadi pertimbangan agar kemeriahan tetap terjaga tanpa memicu kemacetan lalu lintas yang berkepanjangan.

“Ini yang ingin kita tunjukkan, segala sesuatu harus terinspirasi dari prinsip bottom-up, dari bawah,” ucapnya.

Dari total 30 kecamatan di Kota Bandung, pihak Pemkot menyaring penampilan-penampilan yang dinilai paling tepat untuk disajikan dalam pawai budaya tersebut.

Farhan menuturkan bahwa agenda ini terilhami dari kebudayaan serta prakarsa masyarakat, sehingga daya cipta yang berkembang di level wilayah bisa terintegrasi menjadi bagian dari perayaan kota.

Ia turut memberikan catatan khusus terhadap variasi ekspresi kultural warga, contohnya kontingen Kecamatan Mandalajati yang menampilkan nuansa budaya Tionghoa melalui balutan busana serbamerah namun tetap memadukannya dengan identitas khas setempat.

“Mandalajati itu semuanya bergaya China. Bajunya merah semua, tapi perempuannya semua pakai hijab,” terangnya.

Melalui pelaksanaan Karnaval Jampana, Pemkot Bandung berkeinginan agar peringatan HJKB tidak sekadar menjadi acara seremonial rutin, melainkan bertransformasi menjadi wadah bagi warga untuk mengekspresikan identitas kultural, merajut kebersamaan, dan berkontribusi dalam pembangunan kota.

Ajang ini sekaligus memperlihatkan bahwa kemeriahan Hari Jadi Kota Bandung dapat diwujudkan lewat pelestarian tradisi, semangat gotong royong, serta kreativitas yang tumbuh dari akar rumput masyarakat.

Sumber berita: Portal Resmi Kota Bandung — 24 Oktober 2026.

Berita Terkait

Iklan