Fokus Paruh Masa Jabatan, Farhan Terapkan Kebijakan Berorientasi Aspirasi Warga
Memasuki pertengahan masa kepemimpinannya, Farhan mengandalkan metode penyelesaian masalah yang bertumpu pada kebutuhan nyata masyarakat melalui dialog langsung dan sinergi antar-instansi.
Strategi tersebut diwujudkan lewat interaksi aktif bersama penduduk, peningkatan sinergi antar-dinas, serta pemetaan program pembangunan yang disesuaikan dengan realitas di lapangan.
Ketika berbicara kepada Tribun Jabar Network pada hari Sabtu, 24 Oktober 2026, Farhan memaparkan bahwa keluhan yang paling sering diutarakan publik mencakup sektor fisik, khususnya perbaikan jalan, saluran air, serta fasilitas penerangan.
Dalam keterangannya, Farhan merinci urutan aduan terbanyak, yakni masalah jalan raya di peringkat pertama, diikuti sistem drainase, dan terakhir fasilitas lampu penerangan.
Ia berpandangan bahwa kunjungan langsung serta diskusi dua arah amat krusial agar aparat birokrasi mampu mendeteksi kendala spesifik di tiap kawasan, sehingga intervensi yang diberikan benar-benar tepat sasaran.
Berbagai aduan tersebut menuntut penyelesaian yang cermat karena bersentuhan langsung dengan faktor mobilitas, rasa aman, tingkat kenyamanan, serta langkah mitigasi bencana genangan air.
Pelaksanaan di lapangan sangat bergantung pada penetapan skala kepentingan serta kerja sama lintas birokrasi, khususnya guna mengatasi persoalan yang wewenangnya melampaui batas kota dan memerlukan sokongan level provinsi maupun pusat.
Isu krusial lain yang mendapat sorotan khusus adalah penanggulangan banjir, di mana Farhan menegaskan perlunya penanganan komprehensif lewat pembenahan saluran air, pembuatan kolam retensi, sumur resapan, hingga pengoperasian stasiun pompa.
Topografi wilayah serta keterhubungan aliran air antar-wilayah menuntut penanganan genangan yang disesuaikan dengan situasi spesifik tiap zona, sehingga perencanaan teknis serta sinkronisasi antar-wilayah menjadi kunci solusi jangka panjang.
Di samping itu, Farhan memberikan perhatian pada sektor ekonomi kreatif yang dipandang sebagai salah satu motor penggerak utama Kota Bandung yang wajib terus dikokohkan.
Pemerintah Kota Bandung berkomitmen menjaga citra daerah sebagai pusat kreativitas sekaligus merumuskan ekosistem yang kondusif bagi kelangsungan berbagai cabang industri kreatif.
Penguatan potensi tersebut dijalankan secara komprehensif dengan menyasar para pelakunya, penyediaan sarana pendukung, hingga perluasan jangkauan pemasaran.
Satu gagasan yang turut dikaji adalah pemajuan sektor wisata edukasi dengan mendayagunakan keberadaan berbagai universitas serta jejaring pendidikan di Kota Bandung.
Pada ranah ketenagakerjaan, Pemkot Bandung berupaya membuka kesempatan lebih luas bagi kaum muda melalui program pengajaran dan pelatihan vokasi yang selaras dengan tuntutan industri.
Salah satu langkah konkritnya adalah program SMK Global yang dirancang demi mencetak tenaga kerja kompeten, termasuk memfasilitasi peluang penempatan kerja di luar negeri.
Farhan berpendapat bahwa kemajuan Kota Bandung tidak boleh hanya berfokus pada penuntasan isu-isu darurat yang bersifat sesaat, melainkan harus direncanakan secara berkesinambungan agar dampaknya dirasakan dalam kurun waktu yang panjang.
Sinergi yang erat antara warga, pemkot, pemprov, serta pemerintah pusat dipandang sebagai elemen krusial untuk mengatasi bermacam rintangan pembangunan.
Berlandaskan metode yang mengutamakan kepentingan warga serta ditopang kerja sama multisektor, Pemkot Bandung konsisten menggerakkan pembangunan yang adaptif terhadap problematika publik sekaligus memaksimalkan daya saing kota ke depan.
Sumber berita: Portal Resmi Kota Bandung — 24 Oktober 2026.



