Latest Update
B BANDUNG RAYA TV
← Semua berita

Berdiri Sejak 1881, Ponpes Sukamiskin Jadi Saksi Panjang Sejarah Santri di Kota Bandung

Thursday, 22 October 2026 · oleh Redaksi Bandung Raya TV · 👁 20
Foto: Portal Resmi Kota Bandung

Di bawah kepemimpinan KH Abdul Aziz Haidar, Pondok Pesantren Sukamiskin terus menjalankan pendidikan keagamaan sekaligus pendidikan formal. Momentum Hari Santri Nasional yang diperingati setiap 22 Oktober menjadi pengingat pentingnya menjaga keberlanjutan pesantren sebagai tempat

Di bawah kepemimpinan KH Abdul Aziz Haidar, Pondok Pesantren Sukamiskin terus menjalankan pendidikan keagamaan sekaligus pendidikan formal. Momentum Hari Santri Nasional yang diperingati setiap 22 Oktober menjadi pengingat pentingnya menjaga keberlanjutan pesantren sebagai tempat membentuk generasi berilmu dan berakhlak.

KH Abdul Aziz Haidar menyampaikan, mempertahankan pesantren bukan sekadar menjaga bangunan bersejarah, melainkan pula merawat ikatan dengan keluarga pendiri, para alumni, dan masyarakat yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan pesantren.

“Bagi pondok pesantren itu monumen. Pertahankan. Betapa sayangnya kalau alumni dengar Sukamiskin bubar,” tuturnya saat ditemui di lingkungan pesantren, Selasa, 20 Oktober 2026.

Pesantren Sukamiskin didirikan oleh KH Raden Muhammad bin KH Raden Alqo pada 1881. Pada masa awal berdirinya, pengajaran tarekat menjadi salah satu fokus utama. Nama Sukamiskin sendiri berawal dari istilah Arab Suq Misk, yang berarti pasar minyak wangi.

Nama tersebut menggambarkan pesantren sebagai tempat orang datang menimba ilmu agama, kemudian menyebarkan manfaat ilmu itu ke daerah asal masing-masing.

Seiring perkembangannya, pesantren membangun sistem pendidikan yang lebih terstruktur. Pembelajaran dilaksanakan secara klasikal dengan jenjang dan kurikulum yang tersusun.

Menurut KH Abdul Aziz Haidar, sistem tersebut masih diterapkan hingga kini, termasuk tradisi pengajaran dan amalan keagamaan yang menjadi ciri khas pesantren.

Masa pendidikan pesantren disusun dalam delapan tingkatan, mulai dari kelas 0A, 0B, kemudian kelas satu hingga kelas enam. Melalui sistem tersebut, santri menjalani proses pembelajaran secara bertahap, baik dalam pendalaman ilmu agama maupun pembentukan kedisiplinan.

Aktivitas santri dimulai sekitar pukul 04.00 WIB dengan salat Subuh berjamaah. Acara dilanjutkan dengan membaca Al-Qur’an, wirid, dan doa-doa yang diwariskan dari generasi sebelumnya. Sekitar pukul 05.30 WIB, santri mengikuti pengajian sesuai kelas masing-masing sebelum bersiap menjalani pendidikan formal.

Setelah acara sekolah, aktivitas pesantren berlanjut pada siang hingga malam hari. Santri kembali mengikuti pengajian, melaksanakan salat berjamaah, dan mendalami kitab hingga sekitar pukul 23.00 WIB.

“Dari Magrib ngaji sampai jam 11.00 malam,” kata KH Abdul Aziz Haidar, menggambarkan rutinitas pendidikan yang dijalani para santri setiap hari.

Kualitas Pendidikan dan Keberlanjutan Tradisi

Kini, sekitar 250 santri tinggal dan menempuh pendidikan di pesantren tersebut. Mereka berasal dari beberapa daerah, antara lain Karawang, Tasikmalaya, Sumedang, hingga Papua. Selain santri mukim, terdapat pula peserta didik yang mengikuti pendidikan formal di lingkungan pesantren.

Menurut KH Abdul Aziz Haidar, keberhasilan pesantren tidak semata-mata diukur dari banyaknya santri. Baginya, kualitas pendidikan, keberlanjutan tradisi, dan manfaat yang dibawa para santri setelah kembali ke masyarakat jauh lebih penting.

Di tengah perkembangan pendidikan modern, Pondok Pesantren Sukamiskin tetap memadukan pendidikan pesantren dengan pendidikan formal melalui jenjang Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah. Perpaduan tersebut memungkinkan santri mempelajari ilmu agama sekaligus mengikuti pendidikan formal.

Bagi KH Abdul Aziz Haidar, menjaga keberlangsungan pesantren pula berarti memastikan lembaga tersebut tetap memberikan manfaat bagi santri, alumni, dan masyarakat.

Ia berharap para santri tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi pula memiliki kesediaan untuk mengabdikan diri bagi agama dan lingkungan sekitarnya.

“Harus jadilah santri mah. Harus berani mewakafkan diri ke agama,” ujarnya.

Ia pula menyampaikan, setiap Subuh, para santri di Sukamiskin turut mendoakan pemerintah dan Kota Bandung agar terhindar dari bencana serta senantiasa berada dalam keadaan aman.

Di lingkungan pesantren, peringatan Hari Santri Nasional direncanakan diisi dengan acara internal, antara lain doa bersama, tahlilan, serta perlombaan lagu-lagu santri. Acara tersebut menjadi ruang bagi para santri untuk mempererat kebersamaan sekaligus memaknai kembali peran mereka dalam kehidupan bermasyarakat. (rob)**

Sumber berita: Portal Resmi Kota Bandung — 21 Oktober 2026.

Berita Terkait

Iklan